Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melawat ke Kutubchanah, Menengok Manuskrip Tua Peninggalan Nyiak DeEr

Rabu (18/3) selepas Ashar, sepoi angin Danau Maninjau menyambut kedatangan saya ke Makam Syech A. Karim Amrullah di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Riak air danau yang menghempas tanah tepi terdengar jelas dari halaman bangunan bersejarah itu. Suasana desa masih ketara, anak-anak memangku kitab menuju surau. Dua oran laki-laki paruh baya melempar kail ke danau sembari berteduh di bawah pohon kelapa. Asri betul.

Kutubchanah
Cagar Budaya Makam Syech A. Karim Amrullah

Perjalanan Jelajah Agam kali ini, saya dan rekan-rekan berkesempatan menyambangi salah satu Cagar Budaya di Kabupaten Agam. Makam Syech A. Karim Amrullah. Konon, makam ini dahulunya berada di Jakarta. Pada tahun 2000, barulah lokasi makam berada di Nagari Sungai Batang.

Untuk menuju lokasi, menurut saya tidaklah terlalu susah. Jalan yang cukup lebar dengan aspal sempurna memudahkan lajunya kendaraan. Karena ini perkampungan, tentu saja sanak mesti berhati-hati bila berkendara, kalau-kalau ada warga berjalan di sisi jalan.

Berjarak 4 KM dari ibukota Kecamatan Tanjung Raya. Kalau dari ibukota Kabupaten Agam, Lubuk Basung, berjarak sekitar 59 KM. Posisinya sekira 15 Meter dari jalan raya.

Di sepanjang jalan, keindahan Danau Maninjau membuat mata saya terbelalak. Melihat nelayan bersampan di danau menjadi momen pengobat penat. Segerombolan bangau berkubang di sawah menjadi candu bagi saya. Sanak mesti melihatnya sendiri. Jangan lupa bawa alat untuk memotret.

Jika sanak dari Lubuk Basung, akan banyak sekali objek wisata yang akan dilewati, dua di antaranya yang terkenal Objek Wisata Muko-Muko dan Objek Wisata Linggai Park.

Nah, kembali ke destinasi yang kami kunjungi, makam tokoh yang sangat berpengaruh dalam pembaharuan Islam ini. Konon, dari cerita yang saya dengar dari pengelola Cagar Budaya, H. A. Karim Amrullah merupakan ayah dari ulama lagi sastrawan besar, Haji Abdul Malik Karim Amrullhah alias Hamka.

kutubchanah
Makam Syech A. Karim Amrullah

Diceritakan, H. A. Karim Amrullah lebih dikenal dengan sapaan Inyiak DeEr. Pemakaian nama Inyiak DeEr (dari doktor) adalah diambil dari sapaan akrab Dr Haji Karim Amrullah, dimaksudkan untuk mengenang jasa-jasa tokoh yang lahir di Sungai Batang pada 10 Pebruari 1879 dan meninggal di Jakarta 3 Juni 1945 itu.

Inyiak DeEr merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau pada awal abad 20. Konon, lewat kepiawaiannya, Muhamadiyah berkembang pesat di Ranah Minang ini. Beliau juga berhasil merintis Sumatra Thawalib Padangpanjang.

Jika dilihat dari bentuk bangunan, Cagar Budaya ini tidak ubahnya dengan bangunan rumah bagonjong yang banyak ditemui di Nagari Sungai Batang. Namun, dari sisi historisnya, makam ini menyimpan banyak cerita, baik yang sudah terungkap maupun yang belum terungkap.

Salah satunya Kutubchanah yang berada persis di belakang makam. Kutubchanah merupakan bahasa yang disadur dari Bahasa Turki. Artinya adalah perpustakaan.

kutubchanah
Kutubchanah

Saya berkesempatan menengok ke dalam Kutubchanah. Ruangannya tidak terlalu besar. Hanya ada dua ruangan bersekat. Di sisi Utara terdapat semacam ruang tamu dengan sejumlah foto-foto peninggalan Nyiak DeEr dan keluarga.

Persis di Barat dan Selatan terdapat dua lemari kaca. Di dalam lemari tersebut terdapat banyak sekali arsip. Konon, arsip-arsip tersebut ditulis dalam Bahasa Arab. Arsip-arsip tersebut merupakan koleksi bacaan milik Nyiak DeEr.

Yang membuat saya tercengang lagi, di perpustakaan ini terdapat Alquran yang ditulis manual dengan tangan. Walapun, sebagian besar arsip memang ditulis tangan.

kutubchanah
Alquran yang ditulis tangan

Dahulunya, di lokasi ini tidak hanya ada makam dan Kutubchanah. Tapi, persis di tepi danau menghadap ke jalan raya ada bangunan dua lantai yang konon bersejarah bagi Nyiak DeEr. Namun sayangnya, saat ini bangunan tersebut sudah tidak ada. Hanya ada bekas dasar tiang bangunan di beberapa pojokan.

Rasanya masih banyak lagi hal yang ingin saya ketahui di Cagar Budaya ini. Hanya saja, saya belum menemui narasumber yang paham banyak tentang tempat ini, dan tentunya tentang Nyiak DeEr. Barangkali pada kunjungan berikutnya, pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak saya akan terjawab. Allahuwalam.

Jangan lupa bahagia hari ini.


Posting Komentar untuk "Melawat ke Kutubchanah, Menengok Manuskrip Tua Peninggalan Nyiak DeEr"