Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Trip to Museum, Menjemput yang Tercecer di Rumah Kelahiran Sang Buya

Jujur saja, awalnya mengunjungi museum bagi saya merupakan aktivitas yang membosankan. Betapa tidak, di museum hanya ada benda-benda peninggalan, baik peninggalan tokoh maupun saksi bisu dari peristiwa yang memiliki kadar historis. Kepalang mujur ada spot yang bagus buat berswafoto. Itu dulu! 

Namun, setelah saya mengunjungi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, saya justru dibuat lupa kalau saya tengah berada di museum.

Rabu (18/3) pagi, lagu-lagu epik Scorpion menemani perjalanan saya dan rekan-rekan Jelajah Agam menuju kawasan Danau Maninjau. Niat hati, kami akan menuju spot-spot wisata yang mengandung unsur sejarah di Kecamatan Tanjung Raya.

Bak gayung bersambut, kedatangan kami disambut Handria Asmi, Camat Tanjung Raya. Jujur saja beliau di luar ekspektasi saya tentang konsep seorang camat. Muda, enerjik, bersemangat, dan tentu bersahabat.

Ya, seperti pasal biasa, yang namanya bertamu tentu ada baiknya kita suwon dulu ke yang empunya rumah. Alhamdulliah, izin diperoleh. Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka jadi list pada urutan pertama. Let's go gank.


Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Berjarak 5 KM dari kantor kecamatan atau sekira 7 menit berkendara kita sudah sampai di lokasi. Nah, di perjalanan menuju lokasi, saya disuguhkan spot atau lokasi-lokasi yang menyimpan banyak historis, seperti Rumah Rasuna Said, Makam H. A. Karim Amrulluh dan Kutubchanah, janjang saribu, Masjid Muhammad Amrullah, Masjid H. Karim Amrullah, dan sejumlah masjid megah lainnya.

Tapi sanak, pada lain kesempatan kita akan kunjungi spot-spot tersebut. Kali ini yuk kita intip dulu museum yang konon menjadi saksi lahirnya Ulama besar Minangkabau, sastrawan ternama, diplomat, jurnalis, politikus, HAMKA.

Pemandangan yang disuguhkan membuat saya terhipnotis, dan tanpa sadar sudah sampai ke lokasi. Sesampainya saja di pagar museum, saya sudah dihidangkan dengan ragam buku karya HAMKA yang dijual di lapak sederhana. Meski tidak terbilang lengkap, namun hampir sebagian besar magnum opus HAMKA ada di sini. 


Buku-buka karya Buya Hamka

Bagi sanak penggemar karya HAMKA, tidak ada salahnya menengok lapak tersebut. Kalau-kalau ada buku yang bisa melengkapi koleksi sanak. Tapi hati-hati ya sanak, si penjual bilang, di sini ada dua versi buku. Ya. You know lah.

Oke. Bismillah. Satu per satu langkah saya terasa pasti saat menyusuri anak tangga museum. Darr...Takjub bukan kepalang saat berada di halaman museum. Menoleh ke sisi belakang saat berdiri, hamparan Danau Maninjau dengan garis batas tepi bukit menjadi bukti betapa sayangnya Tuhan kepada mahluk yang haus keindahan seperti saya ini. ;)

Di dalam museum tampak seorang bapak berbaju batik dengan kopiah di kepala. Senyumnya mengingatkan saya pada pengarang Tuan Sabir. Beliau adalah Pak Dasri, pemandu histori di museum.

Oiya sanak, museum ini tidak pula terlalu besar. Konon katanya bentuk bangunnya pun sudah direnovasi dari keadaan semula. Namun masih tetap mempertahankan ciri khas Rumah Gadang.

Bicara isi museum, ya jujur saja seperti yang saya tulis di atas, cuma ada benda peninggalan sang buya, buku dan sejumlah potret.

Tapi sanak, yang membuat saya candu berada di museum ini adalah Pak Dasri. Pria bersahaja ini punya 'gezah' yang membuat saya 'mencintai beliau'. Dari pengalaman dan penuturan beliau tentang sosok HAMKA saya serasa berada di dimensi dimana sosok HAMKA hidup. Nyata sanak.


Pak Dasri

Barangkali di internet ataupun buku-buku banyak referensi yang menceritakan tentang HAMKA, namun menurut saya serasa tidak lengkap. Akan sangat lengkap rasanya mencari tahu langsung puzzle-puzzle tersebut di museum ini.

Tahukah sanak, kalau semasa kanak-kanaknya Buya HAMKA juga pernah bandel? Tahukah sanak, pengalaman hidup pahit sedari kecil yang membentuk karakter tangguh sang buya? Dan tahukah sanak, kalau HAMKA adalah Romeo versi Sungai Batang. Di musuem inilah sanak akan mengetahui hal-hal yang luput diketahui dari sosok HAMKA.

Maafkan saya banyak-banyak sanak, saya tidak bisa berbagi cerita Pak Dasri tentang sosok buya di sini. Itu saya sengajakan sanak, supaya sanak ke sini, kalau saya ceritakan di tulisan ini, kapan lagi sanak ke sini. Ya keun :)

Durasi dua jam rasanya sangat sebentar saat berada di museum ini. Ingin sekali rasanya berlama-lama. Suhu ruangannya sangat sejuk sanak, nyaman sekali. Barangkali karena posisi museum persis berada di tepi danau.

Kapan-kapan mampirlah ke sini sanak. Bagi orang-orang mancanegara seperti Malaysia dan Brunei, museum ini menjadi destinasi wajib ketika ke Ranah Minang. Tak ada pungutan biaya. Hanya ada semacam baki kecil yang digunakan untuk menaruh derma seikhlasnya. Saya tunggu sanak di nagari Si Sabariah ini.

Jangan lupa bahagia hari ini.

Posting Komentar untuk "Trip to Museum, Menjemput yang Tercecer di Rumah Kelahiran Sang Buya"