Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dari Anorganik Menuju Organik, Upaya Penyelamatan Sumber Daya Alam Tepi Hutan

Pagi itu, Selasa (30/10) sekira Pukul 08.30 WIB cuaca Ujuang Luak, Nagari Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat cukup terik. Sejauh mata memandang terhampar pepadian yang menguning, merunduk tanda telah berisi. Bagi yang tidak terbiasa jalan di pematang sawah, bakal kewalahan berjalan di atas petakan sawah yang tak beraturan itu. Dari kejauhan terdengar suara talempong lambat mengalun. Iramanya riang dengan ketukan cepat namun teratur.

Ibu-ibu tani di Sumpur Kudus

Di atas pematang sawah yang ukurannya tak sampai dua jengkal orang dewasa itu, tampak sekumpulan ibu-ibu berbaju kurung tak seragam. Bak itik pulang petang mereka berbaris menjunjung jamba makan di atas kepala sembari menjinjing cerek di tangan kanan. Langkah kaki mereka tak bergegas di atas pematang. Senda gurau dengan dialek khas Nagari Sumpur Kudus terdengar ritmis saat ibu-ibu itu melompat parit kecil di pematang sawah. 

Rombongan ibu-ibu itu bukan hendak pergi piknik, namun lebih dari sekadar itu. Betapa tidak, hari ini merupakan hari penting bagi masyarakat petani di Nagari Sumpur Kudus. Padi yang mereka tanam empat bulan silam sudah memasuki masa panen. Tidak berlebihan pula jika ratusan petani menghelat perayaan panen raya. Lebih-lebih padi yang bakal dipanen merupakan padi yang diolah secara organik, perdana pula di Sumpur Kudus.

“Kami membawa jamba untuk dimakan bersama-sama nantinya setelah panen raya padi organic usai dilakukan,” ujar Armanis (54) sambil menyeimbangkan beban di kepalanya.

Dari Anorganik Menuju Organik

Pembudidayaan padi sawah dengan pola tanam organik yang tersistematis memang belum lama digiatkan masyarakat tani Nagari Sumpur Kudus. Meski begitu, cara kerja yang terbilang semi organik dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar kehidupan sehari-hari, sudah lama  mereka lakukan. Salah satu buktinya dengan menggunakan abu kayu bakar yang ditabur ke lahan sawah. 

Selain itu, pola penetapan tanam padi serentak yang telah berlangsung sejak lama dengan melibatkan ninik mamak, tokoh masyarakat, ulama, dan kelompok tani terbilang salah satu kearifan lokal yang kerap dilakukan masyarakat tani Nagari Sumpur Kudus dalam menjaga keseimbangan alam. Kendati tidak begitu konsisten dilakukan, tapi kearifan lokal tersebut jadi modal dasar untuk pengembangan polarisasi padi organik di daerah tersebut.

“Kami telah membuat kesepakatan bersama, yang tertuang di dalam peraturan nagari juga peraturan adat mengenai pola tanam padi serentak. Kemudian larangan membakar jerami. Gotong royong sebelum musim tanam,” terang Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Sumpur Kudus, Syarifuddin.

Dikatakan Syarifuddin, dalam upaya menata polarisasi bertani masyarakat secara baik dan terukur dengan sistem organik ini, sejak 2016, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi ambil bagian di Nagari Sumpur Kudus. KKI Warsi bersama Perkumpulan Petani Organik (PPO) Santiago kemudian menginisiasi lahirnya Kelompok Sekolah Lapangan (SL) Padi Organik di Nagari Sumpur Kudus melalui Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Sumpur Kudus. Melalui SL Padi Organik, sekira 40 orang petani di Nagari Sumpur Kudus membuat komitmen bersama dalam hal penerapan sistem pertanian organik. 

“Pembentukan SL Padi Organik dimaksudkan sebagai kelas pembelajaran bagi petani. Minimal satu minggu sekali KKI Warsi bersama PPO Santiago mengajak anggota SL untuk melakukan pengamatan terhadap padi yang mereka tanam dengan membaginya menjadi 6 kelompok pembelajaran,” ulas Deputi Direktur KKI Warsi, Adi Junedi. 

Tidak hanya itu, lanjut Adi, kelompok SL juga diajak melakukan penelitian dan pengujian, seperti uji ketahanan air, membandingkan tekstur tanah, mengamati ekosistem sawah, sampai kepada membuat ekstrak ramuan nabati dari sumber daya alam lokal.

Masyarakat tani Nagari Sumpur Kudus yang tergabung dalam SL Padi Organik melakukan pembelajaran dengan taknik yang terbilang sederhana. Sebagai contoh, uji ketahanan air yang dilakukan terhadap lumpur sawah. Petani membuat semacam sampel, seperti padi yang ditanam di lumpur sawah murni, kemudian ada padi yang ditanam di lumpur yang bercampur jerami, ada juga yang ditanam dalam campuran kotoran hewan, ampas kelapa, abu kayu, limbah kakao dan sebagainya.

Pun begitu halnya dengan teknik percobaan unsur hara terhadap bahan-bahan yang akan dicampurkan ke lumpur sawah. Mereka menggunakan alat sederhana untuk mengukur nutrisi tanah, seperti menggunakan bola lampu yang kabelnya dicelupkan ke sampel-sampel yang telah dipersiapkan sebelumnya. Mereka membuat rangkaian listrik dengan menggunakan paralon sebagai pegangan dan bola lampu disalurkan ke aliran listrik. Sampel yang menghasilkan nyala lampu lebih terang berarti mengandung unsur hara yang tinggi.

“Berdasarkan hasil pengamatan petani yang dilakukan setiap minggu, petani menemukan ekosistem sawah yang makin beragam sejak menghentikan penggunaan bahan kimia. Seperti bermunculan lubang belut, kecebong, siput, dan lain sebagainya,” terang Adi. 

Sementara itu, petani menemukan fakta bahwa ekstrak nabati dari dedaunan yang menyengat cukup ampuh sebagai bahan pengusir hama pengganggu tanaman padi.

Polarisasi padi organik yang digiatkan masyarakat tani Nagari Sumpur Kudus patut diacungi jempol. Bisa dikatakan polarisasi tersebut berjalan dengan baik. Buktinya mereka dapat menghasilkan 7,7 ton padi per 1 hektare. Ini meningkat 4 ton dibandingkan dengan polarisasi padi konvensional.

Berikut rincian hasil pengamatan SL Padi Organik yang memengaruhi hasil produksi padi berdasarkan perlakuan:

Pegamatan kelompok 1 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur kotoran itik, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 5,92 ton.

Pegamatan kelompok 2 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur abu kayu, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 5,28 ton.

Pegamatan kelompok 3 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur bongkol pisang, abu dapur, kotoran ayam, kotoran sapi, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 4,32 ton.

Pegamatan kelompok 4 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur abu kayu dan kotoran kambing, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 3,52 ton.

Pegamatan kelompok 5 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur abu kayu, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 7 ton.

Pegamatan kelompok 6 : menggunakan media tanam lumpur yang dicampur jeramik lapuk, padi yang dihasilkan per hektare mencapai 7,72 ton.

Berdasarkan hasil ubiran perlakuan di atas, petani yang tergubung dalam SL Padi Organik menyimpulkan bahwa polarisasi padi organik yang terbaik adalah menggunakan jerami lapuk. Sehingga, masyarakat tani setempat mebuat kesepakatan adat sebagai plakat bahwa mulai dari sekarang masyarakat tani di Nagari Sumpur Kudus dilarang membakar jerami, karena dapat menambah jumlah produksi padi jika dimanfaatkan.

Penyelamatan Sumber Daya Tepi Hutan

Polarisasi padi organik ini dapat dikatakan sebagai salah satu bagian dari kerja Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) yang memberi ruang kepada masyarakat nagari sebagai pelaku utama. Sebagai contoh, masyarakat di Nagari Sumpur Kudus umumnya kerap bergaul dekat dengan hutan dan sungai. Mereka yang berada di pinggiran sungai, memenuhi kebutuhan pangannya secara tradisional, yaitu melalui pengolahan sawah yang mana sumber airnya berasal dari hutan.

“LPHN Sumpur Kudus menjaga hutan mereka sebagai bentuk penyelamatan sumber daya alam sekaligus upaya berkesinambungan dalam menjaga ketahanan pangan. Hutan bagi mereka adalah penghidupan. Jika hutan rusak, sumber air akan rusak. Jika sumber air rusak, lahan sawah mereka akan kekeringan. Itu artinya bencana bagi mereka,” terang Adi.

Agaknya masyarakat Nagari Sumpur Kudus paham benar bahwa dalam memenuhi kebutuhan yang bersumber dari alam tidak bisa lepas dari keberadaan hutan di sekitarnya. Mereka tidak hanya melihat kayu sebagai sumber daya yang ada di hutan, melainkan keberadaan air bersih justru lebih bisa mendatangkan manfaat.

“Bagi kami menjaga hutan bukan sekadar menjaga dari penebangan liar, akan tetapi memanfaatkan sumber daya yang ada supaya bermanfaat untuk masyarakat tepi hutan jauh lebih penting,” sebut Syarifuddin.

Posting Komentar untuk "Dari Anorganik Menuju Organik, Upaya Penyelamatan Sumber Daya Alam Tepi Hutan"