Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Petani Air Batumbuk Kepincut Kopi Arabika, Primadona Baru Dari Kaki Gunung Talang

Kanagarian Air Batumbuk atau dalam dialek lokal Aia Batumbuak yang terletak tepat di bawah kaki Gunung Talang Kabupaten Solok tak hanya ingin dikenal dengan hamparan kebun teh dan tanaman holtikultura. Aia Batumbuak juga ingin dikenal sebagai penghasil kopi arabika berkualitas super. Petani setempat sudah menanam kopi arabika di bawah kaki gunung dengan ketinggian 2.569 mdpl itu sejak lima tahun silam. Kini, sejumlah petani sudah memetik manisnya buah kopi yang merekah. Penasaran dengan kisah mereka?

Sejauh mata memandang, landscape Kanagarian Aia Batumbuak seakan diselimuti kebun teh dan perkebunan bawang merah. Satu-satu kita juga menjumpai tanamam muda lainnya, seperti ladang cabai, lobak, kentang, dan tomat.

Namun ada pemandangan yang kontras. Di antara bedengan cabai tampak ratusan batang kopi berjenis arabika tersusun rapi. Tingginya sedada orang dewasa. Jika dilihat-lihat benar, kopi-kopi tersebut tengah berbuah. Tak ada dahan yang tak ditumbuhi biji kopi. Bahkan dahan yang hanya berjarak 5 cm dari tanah juga tak luput dari buah.

“Sudah dua tahun kebelakang kopi ini berbuah,” ujar Idris Maizal (53) petani asal Koto Baruah Kanagarian Aia Batumbuak, pemilik ladang kopi tersebut.

Konon Maizal sudah jatuh cinta dengan tanaman kopi asal Etiopia itu sejak tahun 2014. Awalnya Maizal menaruh rasa pesimis karena uneg-uneg yang berseliweran soal tanaman kopi. Namun setelah dicoba, ternyata pilihannya menyulap bedeng cabai miliknya menjadi ladang kopi adalah pilihan yang tepat.

Biaya tanam yang tidak terlalu tinggi, serta tidak membutuhkan biaya pupuk dan racun menjadi motivasi Maizal membudidayakan tanaman kopi. Dikatakannya, tanaman kopi bukanlah tanaman yang manja.

“Setelah saya amati, ternyata menanam kopi lebih baik daripada menanam tanaman muda (holtikultura). Biayanya enteng. Cuma mengeluarkan modal di awal saja,” bebernya.

Berbekal pengalaman bertani holtikultura, Maizal mengaku tidak begitu kewalahan mengurus tanaman kopi. Pengetahuan soal hama hingga pemangkasan cabang kopi yang mengganggu produktivitas buah didapatnya secara otodidak.

Supaya asap dapur tetap mengepul sembari menunggu tanaman kopi berproduksi, pembudidayaan tanaman kopi yang digiatkan Maizal dilakukan dengan metode tumpang sari. Maizal mencampurkan tanaman kopi dengan tanaman holtikultura, seperti cabai, lobak, dan kentang. Harapannya, pupuk dari tanaman muda tersebut merembes ke tanaman kopi.

“Waktu dua atau tiga tahun itu tidak sebentar, jadi supaya lahan ini tetap menghasilkan, saya juga menanam tanaman-tamanan muda,” imbuh Maizal.

Meski awalnya Maizal menaruh khawatir untuk memeroleh bibit kopi unggulan, dia mengaku akan menambah jumlah tanaman kopi di lahan miliknya. Untuk ekspansi lahan dia membutuhkan 600 batang bibit kopi.

“Untuk bibit awal saya tidak beli, dulu ada pembagian bibit kopi dari LSM, orang tak banyak minat, jadi saya ambil saja,” pungkasnya.

Hal senada juga diutarakan Mardanus (62) pemilik ladang kopi lainnya. Dia mengaku di lahan miliknya dengan luas 2 hektare terdapat kurang kebih 1500 batang kopi yang tengah berbuah. Di sela kopi ditanami tanaman kentang dan pisang.

Soal produksi dan pemasaran, Mardanus bicara blak-blakan. Dalam melakukan pemanenan, Mardanus hanya memetik buah kopi yang berwarna merah saja, sehingga untuk sekali panen jumlahnya belum terlalu besar.

“Karena ini baru belajar berbuah, maka hasilnya belum terlalu maksimal. Kemarin sekali panen baru dapat 6 kg dalam satu minggu. Saya jual basah saja, dengan harga Rp 6 ribu per kilonya,” ungkap Mardanus.

Kopi Arabika Organik

Jika Maizal dan Mardanus terpantik membudidayakan tanaman kopi karena motif kejenuhan dengan tanaman muda yang membutuhkan biaya besar, dan alasan keberlanjutan produksi tanaman, beda halnya dengan Ilona (32). Dirinya menanam kopi karena alasan klinis.

Ilona membudidayakan tanaman kopi dengan cara organik. Dia mengaku sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia untuk menggenjot pertumbuhan batang dan buah kopi.

“Saya ingin mematahkan pandangan orang yang mengatakan kopi itu bisa berbuah jika dipupuk,” beber Ilona ketika ditanyakan motifnya menanam kopi dengan cara organik.

Diterangkan Ilona, penggunaan racun dan pupuk kimia di Kanagarian Aia Batumbuak sudah berada pada fase yang mengkhawatirkan. Jika musim hama dan kabut tiba, pupuk kimia menjadi kebutuhan pokok.

“Karena kebutuhan akan pupuk kimia yang tinggi, saya menyebut kawasan ini dengan lembah tengkorak,” terang ibu satu orang anak yang juga merupakan penggiat pertanian organik dari PPO Santiago itu.

Sebenarnya, lanjut Ilona, kopi itu bisa berproduksi dengan baik tanpa pupuk, asalkan tahu teknik penanaman yang benar. Teknik yang dimaksudkan Ilona adalah pemangkasan dan cara panen.

Ilona mengatakan tanaman kopi tergolong jenis tanaman semak, tidak seperti tanaman lain yang memiliki ranting besar dan tumbuh tinggi, tanaman kopi tidaklah tumbuh tinggi di usia dewasa tanaman ini. Kopi yang tumbuh terlanjur tinggi, sebut Ilona tentunya akan merugikan petani karena nutrisi yang diserap akar pohon dari tanah disebarkan ke seluruh ranting pohon. 

“Pohon kopi yang terlanjur tinggi dan tidak dirawat dengan baik, buahnya tidak lagi tumbuh,” tukasnya.

Seteliti apa pun perawatan pada pohon kopi, akan ada saja permasalahan yang dihadapi, apakah itu serangan hama penyakit atau serangan serangga yang merugikan pohon kopi. Pemangkasan bisa jadi solusi akan permasalahan itu.

“Misalkan saja ada ranting pohon kopi yang sudah tidak ada lagi daun kopi pada rantingnya, bisa dipastikan mungkin tidak ada buah kopi yang akan tumbuh pada dahan ini. Disarankan untuk memangkas ranting ini untuk mempusatkan nutrisi pada dahan yang masih produktif,” lanjutnya lagi.

Kopi Arabika

Kemudian cara petik, Ilona menyarankan agar dipetik buah yang sudah merah saja. Dipetik dengan cara diputar, dan pastikan tampuk kopi masih berada di dahannya.

“Sebab tampuk itu nantinya akan berbuah lagi sebanyak tiga kali,” sebut Ilona.

Sejak 2014 hingga 2018, berdasarkan data yang dihimpun Ilona, tercatat lebih dari 5000 batang kopi arabika yang tengah berproduksi di Kanagarian Aia Batumbuak, Kabupaten Solok dengan luas tanam mencapai 4 hektare. Jumlah disinyalir akan terus bertambah seiring tren budidaya tanaman kopi di daerah dingin tersebut.

Posting Komentar untuk "Petani Air Batumbuk Kepincut Kopi Arabika, Primadona Baru Dari Kaki Gunung Talang"