Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Masyarakat dan Bangsa Pembaca

Barangkali tanpa disadari peradaban dunia dimulai dan dibentuk dari aktivitas membaca orang-orang terdahulu. Baik aktivitas membaca bahasa kata-kata ataupun bahasa tulis. Artefak, prasasti, teks, naskah, surat kabar, buku, bahasa dan lain sebagainya dapatlah dikatakan alat penyampai pesan dan makna dari dulu hingga sekarang. Tentu saja pesan dan makna tersebut akan tersampaikan melalui proses membaca. Hingga hari ini, aktivitas membaca masih terus dan akan berlangsung hingga ujung peradaban.

Foto via Daily Genius

Mungkin kita tidak akan berseberangan ketika mengutarakan pendapat mengenai kenyataan negeri hari ini. Begitu banyak persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini, mulai dari masalah korupsi, ketidakadilan hukum, kesenjangan sosial, sampai kepada peristiwa bencana alam. Ditambah lagi dengan permasalahan minat baca yang akan disampaikan penulis kali ini. 

Kiranya kita harus bisa menerima kenyataan bahwa semakin kesini bahan bacaan yang sarat dengan pengetahuan mulai ditinggalkan. Atau katakanlah saat ini minat masyarakat kepada bahan bacaan fisik seperti buku dan surat kabar mengalami kemerosotan. Masyarakat lebih condong membaca bahan bacaan virtual, seperti bacaan hiburan yang ada di media sosial.

Sekelumit Tentang Bacaan dan Membaca

Proses yang dilakukan seseorang dalam memperoleh pesan, baik melalui kata-kata ataupun bahasa tulis disebut dengan membaca. Adapun tujuan dari membaca itu sendiri adalah untuk mencari dan memperoleh informasi, sehingga dapat dipahami secara isi dan makna bacaan. Demikian setidaknya Henry Guntur Tarigan (2008) mencoba menjelaskan makna dan tujuan membaca dalam bukunya yang berjudul Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Bahasa.

Lebih lanjut, Jaya Suprana (1997) dalam sebuah buku yang memuat tulisan miliknya yang berjudul Buku : Sebuah Kontemplasi, mengatakan ada hal lain yang perlu disadari dan dipahami oleh seseorang selain dari membaca bahasa tulis. Seseorang juga harus bisa membaca suasana, lingkungan, gerak, suara, rasa, rabaan, bau, sandi, cuaca, waktu, perilaku, zaman dan lain sebagainya.

Barangkali dari dua penjelasan di atas dapatlah penulis tarik kesimpulan bahwa setiap individu diharuskan untuk membaca, karena membaca merupakan hal yang melekat pada diri seorang individu, pun semua yang ada disekitar diri seorang individu merupakan bahan bacaan. 

Jamak dari kita tentu pernah mendengar dan menyimak para penceramah, pembicara, komentator, atau penulis begitu piawai menyampaikan pendapat dan gagasannya berkenaan permasalahan yang tengah hangat dibicarakan. Barangkali juga kita pernah mendengar lagu dengan lirik sangat puitis yang dapat mempermainkan emosi orang yang mendengarkan. Dalam hemat penulis, semua itu merupakan sebuah proses dari kegiatan membaca.

 Sedikit Paradoksal

Jika kita bersepakat mengatakan kegiatan membaca merupakan hal yang melekat pada diri seseorang, lalu mengapa semakin kesini minat baca mengalami kemerosotan? Mengapa orang-orang tidak begitu bergairah mengunjungi toko-toko buku? Mengapa Perpustakaan Daerah hanya disambangi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan saja? Barangkali pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan kita bersama hari ini.

Pada kesempatan ini, penulis akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Meski tidak satu per satu dan terperinci, barangkali penulis dapat menyimpulkan dalam satu pokok pemikiran saja. Dalam hemat penulis, pokok pemikiran tersebut dapatlah kita kerucutkan pada kata 'sebab'. Pendeknya, banyak hal yang menyebabkan minat baca masyarakat menjadi berkurang, katakanlah beberapa diantaranya seperti belum sampainya pengetahuan, akses, dan fasilitas.

Belum sampainya pengetahuan disini, marilah kita artikan dengan belum tercapainya misi pendidikan nasional dalam mengatasi buta huruf. Sementara terkait akses dan fasilitas, penulis ingin menyontohkan keruwetan dalam mendapatkan bahan bacaan, katakanlah buku. Bahkan, untuk meminjam pun mengalami kesulitan. Sehingga tak jarang seseorang yang memiliki minat baca yang tinggi melakukan upaya 'mengutil', atau kepalang mujur menemukan bahan bacaan di bekas bungkus nasi.

Kiranya sudah sangat terlambat penulis mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia, dan semua itu terdapat di rak-rak pertokoan dan perpustakaan. Barangkali tak jarang sidang pembaca sekalian mengalami kesulitan untuk mengakses bahan bacaan di tempat-tempat tersebut. Kemudian, tak kalah ketinggalan adalah harga beli buku yang semakin kesini semakin tak terjangkau. Suatu langkah maju ketika nantinya pemerintah merealisasikan subsidi harga buku.

Pada sisi lain, penulis sendiri pun menyadari betapa paradoks wajah literasi di negeri ini. Bahan bacaan fisik sudah mulai ditinggalkan pembaca, sementara para penulis terus bertambah subur jumlahnya, bahkan terkadang mesti membuat sensasi dulu baru karyanya akan dilirik pembaca.

Masyarakat dan Bangsa Pembaca

Ignas Kleden (2004) pada suatu kesempatan dalam tulisannya yang dimuat dalam buku Masyarakat dan Negara : Sebuah Persoalan, mengingatkan kita kepada sejarah bangsa. Dikatakannya dengan tegas bahwa para tokoh pendiri Republik Indonesia adalah orang-orang terdidik dan terpelajar. Tokoh-tokoh tersebut telah merupa 'Narasi Nasional' yang menghendaki generasi penurus bangsa yang terdidik dan terpelajar juga.

Dengan penafsiran yang cemerlang, Adew Habtsa (2014) dalam bukunya Menjadi Bangsa Pembaca, menafsirkan makna dari Tugu Proklamasi. Dikatakannya di tugu tersebut sosok proklamator berdiri tegak menghadap pengeras suara seraya memegang selembar teks. Arca tersebut seolah menjadi metafor tentang bangsa pembaca, yakni bangsa yang memiliki kemauan dan menyatakan kehendak melalui aksara.

Penulis berpandangan untuk menjadi generasi yang layak meneruskan Republik Indonesia adalah mereka yang terdidik dan terpelajar. Hanya orang terdidik dan terpelajar yang dapat mengakses informasi dan pengetahuan hari ini. Hal tersebut akan terjadi ketika masyarakat telah terbiasa untuk membaca, baik bahan bacaan yang diwajibkan secara pragmatis, maupun bahan bacaan yang memang dibutuhkan untuk pengembangan diri.

Lalu bangsa pembaca seperti apa yang kita maksud? Jakob Sumardjo (2003) membantu kita menjawabnya. Dikatakannya ada dua jenis pembaca di Indonesia, yaitu (1) pembaca hiburan yaitu mereka yang menggemari tontonan dan bacaan, (2) pembaca haus informasi yakni (i) pembaca biasa yaitu mereka yang membaca untuk memperoleh informasi saja, (ii) pembaca intensif yaitu mereka yang membaca segalanya, lebih dari sekedar mendapat informasi saja.

Dari penjelasan di atas barangkali telah menjawab pertanyaan seperti apa yang dimaksud. Penulis masih percaya bahwa pembaca yang mengaktualisasikan bacaanya akan dapat menyelesaikan persoalan bangsa yang kian rumit. Bagi penulis, apa yang kita rasakan hari ini adalah hasil bacaan generasi terdahulu. Pembaca yang buruk pada masa lalu akan menghasilkan sejarah yang buruk untuk hari ini, demikian juga sebaliknya.

Pernah dimuat di nanmudo.com

Posting Komentar untuk "Menjadi Masyarakat dan Bangsa Pembaca"