Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar Hidup Komunal dari Larik yang Membentuk Bait

Kehidupan yang semakin sulit telah memaksa siapa saja berbuat apapun, termasuk melupakan pentingnya saling merangkul. Saling sikut agaknya menjadi lebih menarik hari ini, atau selemah-lemahnya iman adalah saling tidak mempedulikan. Hal yang sedemikian memang mudah melanda ketika paceklik mencekik. Namun, menziarahi kembali nilai-nilai kebersamaan agaknya bukanlah dosa untuk dilakukan saat ini. Merendahkan ego sepertinya dapat menjadi solusi terbaik, dan mari kembali hidup dengan niat kebersamaan.

Foto via Sedibeng Ster

Ini bukan perkara komunal yang selalu diidentikan dengan masyarakat egaliter, atau bukan juga capaian yang ingin diraih masyarakat subsisten. Namun, ihwal mengenang titik di mana menjalani hidup dengan tujuan awal yang dibersamakan. Agaknya kita perlu belajar dari pepetah Minang berikut ini :

Sasakik sasanang, sahino semalu
Nan ado samo dimakan, nan indak samo dicari
Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang
Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun
Tatilantang samo minum ambun,
Tatilungkuik samo makan tanah,
Laki-laki samalu, parampuan sarasan

Jika dibahasakan ke Bahasa Indonesia kurang lebih artinya seperti berikut ini :

Sesakit sesenang, sehina semalu
Yang ada sama dimakan, yang tidak sama dicari
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing
Ke bukit sama mendaki, ke lurah sama menurun
Tertelentang sama minum embun
Tertelungkup sama makan tanah
Laki-laki semalu, perempuan serasa

Indah benar rupanya arti dari pepatah tersebut. Kiranya spirit kebersamaan begitu kental di tiap larik yang menghimpun menjadi bait itu. Jika dibedah lagi satu-satu kita dibuat tambah terperanga lagi. Berikut makna yang dapat disimpulkan penulis terkait pepatah orang Minang tersebut, jika ada salah dan janggal, maaf diminta banyak-banyak.

Tidak lain tidak bukan, penulis memaknai pepatah di atas dengan mengarahkannya kepada konteks kepedulian dan solidaritas. Kepedulian ialah suatu perasaan yang dirasa, yang berkaitan dengan tanggungjawab atas kesulitan yang dihadapi oleh orang lain, di mana seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu sebagai solusi. Sekonyong-konyong dalam kehidupan bermasyarakat kepedulian lebih kental diartikan sebagai perilaku baik seseorang terhadap orang lain di sekitarnya.

Kiranya dalam hemat penulis, kepedulian dapatlah dimulai dari kemauan untuk memberi, tanpa melihat subjek penerima. Sedikit lebih religus, sebagaimana ajaran Rasul untuk mengasihi yang kecil dan menghargai yang besar; orang-orang kelompok ‘besar’ hendaknya mengasihi dan menyayangi orang-orang kelompok ‘kecil’, pun sebaliknya.

Mencapai kedamaian di hidup ini kiranya kita butuh suatu yang disebut empati. Sebab, tanpa itu, mungkin saja kita tidak akan bertahan hidup sejauh ini. Lebih-lebih orang-orang sesumbar melabeli kita sebagai makhluk sosial. Makhluk yang kiranya memahami betul kondisi yang bergantung dan tidak bisa hidup jika tidak saling membutuhkan satu dengan yang lain. Adalah kedamaian timbul karena adanya hal yang demikian. Jika lebih liris lagi kita menyebutnya cinta dan kasih sayang. Keduanya merupakan pemicu gejolak hidup dalam mengasihi dan menyayangi orang lain tanpa melihat status. Keduanya butuh kepedulian.

Mari saya ajak sidang pembaca sekalian kepada kesepakatan seperti ini; bahwa kepedulian mengungkap hakikat keberadaan kita sebagai manusia. Adalah kepekaan yang timbul untuk peduli dan menolong antar sesama dalam mempermudah situasi yang ada. Terpenting adalah gejolak hasrat yang menakar sejauh mana kita peduli pada sesama dan melakukan tindakan kecil yang digolongkan perbuatan menolong. Sebab perasaan kasihan saja tidak akan berarti apa-apa. Untuk melaluinya dengan baik ialah mengasah rasa dan kepekaan terhadap siapa saja.

Serupa kiranya ihwal kepribadian, solidaritas adalah adik kandung yang sebaya. Bolehlah kita maknai solidaritas sebagai wujud kepedulian antar sesama kelompok ataupun individu secara bersama yang menunjukkan pada suatu keadaan hubungan antara indvidu dan atau kelompok yang didasarkan pada persamaan moral, presepsi kolektif yang sama, dan kepercayaan yang dianut serta di perkuat oleh pengalaman emosional.

Solidaritas kerap dipandang sebagai perpaduan antara kepercayaan dan perasaan yang dimiliki secara bersama-sama. Rangkaian kepercayaan tersebut telah membentuk suatu sistem dan memiliki nyawa tersendiri. Pada kajian lebih dalamnya, Durkheim pernah mengemukakan pernyataan yang lebih meyakinkan mengenai hakikat solidaritas juga menetapkan kriteria metode analisisnya. Ia membanginya menjadi kepada aspek mekanis dan organis. Mari kita menceritakan keduanya di lain waktu dan kesempatan.

Mendasar sekali dari tulisan ini ialah bagaimana kita belajar hidup bersama dengan segala kemungkinan tersulit. Saling renda-merenda, ulas-mengeluas, bilai-membilai. Menjalin kehidupan yang hangat kiranya dapat mendinginkan teriknya matahari ketika paceklik. Adalah menerima hal yang tidak terduga sebagai pilihan terbaik, dan berusaha terus berada pada kesadaran yang sama.

Pernah dimuat di nanmudo.com

Posting Komentar untuk "Belajar Hidup Komunal dari Larik yang Membentuk Bait"