Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memikir Ulang Keberadaan Permainan Tradisional Anak


Masih ingatkah kita dengan permainan patok lele, congkak, tomong, sipak tekong, yeye? Semuanya itu merupakan permainan anak-anak hasil ciptaan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Hampir semua dari kita pernah memainkannya bukan? Tapi, bisakah kita menemukan permainan-permainan tersebut dewasa ini?

Foto : kopi-ireng.com

Banyak pertanyaan yang beseliweran di benak kita ihwal hilangnya permainan tradisional di nusantara. Jamak pendapat mengatakan permainan tradisional anak berada di ambang kepunahan. Permainan tradisional anak lambat laun mulai ditinggalkan, keberadaannya sedikit demi sedikit mulai terkikis khususnya di kota-kota besar. Permainan tradisional anak tidak lagi menjadi primadona bagi anak-anak masa kini yang lebih memilih permainan canggih yang lebih aktraktif lagi menyenangkan.

Meski keberadaan permainan tradisional anak tidak begitu mendapat tempat di hati anak-anak masa kini, jika diperhatikan dan dikelola dengan baik dan benar, permainan tradisional anak dapat memberikan daya tawar tersendiri. Mari penulis ajak sidang pembaca sekalian untuk menyimak pentingnya permainan tradisional anak untuk dipertahankan.

Penting tapi tidak diminati

Sebagai bagian dari kebudayaan nusantara, kiranya tidak fair jika keberadaan permainan tradisional anak dianggap tidak penting. Bagi masyarakat Indonesia, pengetahuan tradisional dan ekspresi kebudayaan (cultural ekspresion) –permainan tradisional anak merupakan satu di antaranya– merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Sebagai ekspresi kebudayaan, permainan tradisional anak menjadi identitas dan warisan yang perlu dipelihara.

Hakikinya permainan tradisional anak merupakan simbol dari pengetahuan yang turun-temurun dan mempunyai pesan di balik keberadaannya. Meski demikian permainan tradisional anak lebih banyak memuat unsur hiburan yang menyenangkan bagi anak-anak. 

Permaian tradisional anak di Minangkabau misalnya. Permainan tradisional anak di Minangkabau merupakan bentuk penyampaian pesan sekaligus hiburan bagi masyarakat Minangkabau itu sendiri. Kebanyakan permainan tersebut diciptakan berdasarkan falsafah yang dianut, yaitu falsafah persamaan dan kebersamaan. 

Mari kita lihat contoh permainan tradisional anak di Minangkabau berserta pesan yang terkandung dalam permainan tersebut. Pertama sebut saja permainan kajon-kajon duduak (kejar-kejar duduk). Apabila musimnya tiba, anak-anak di Minangkabau lebih sering memainkan permainan ini, lebih-lebih di malam terang bulan. Cara bermainnya sederhana saja, bagi pemain yang menang suit maka ia harus berlari dan menyelamatkan diri dari pemburu, untuk menyalamatkan diri ia harus duduk segera sebelum disentuh oleh pemburu, jika tersentuh sebelum duduk maka ia yang akan menjadi si pemburu.

Makna dari permainan kajon-kajon duduak ialah mengajarkan anak-anak untuk menjadi berani berbuat dan berani juga bertanggungjawab, berani menanggung risiko, jika kalah maka terimalah kekalahan itu dan berusaha menebusnya. Permainan ini juga mengajarkan anak-anak berpolitik, kesetiakawanan dalam membela dan menyelamatkan kawan bermainan, yang mana telah terkikis di kehidupan anak-anak masa kini.

Kemudian di Minangkabau ada permainan yang sangat digemari di masa lampau, dimainkan oleh orang yang banyak. Permainan itu adalah sipak tekong (sepak kaleng). Cara bermainnya juga sederhana, pemain yang kalah suit akan menjaga sebuah kaleng yang diletakkan di sebuah lingkaran. Pemain tersebut akan berjaga sambil berujar alah alun (sudah belum), jika tidak ada sahutan itu artinya sudah. Apabila semua yang bersembunyi dapat ditemukan dengan kaleng terjaga dengan aman, maka yang ditemukan pertama kali harus menjaga kaleng. Tapi, apabila teman yang lain berhasil menendang kaleng, maka teman yang telah ditemukan terselamatkan, dan si penjaga kembali menjaga kalengnya.

Dalam permaian sipak tekong terkadung nilai kebersamaan dan kerjasama, tanggungjawab, strategi, serta hiburan. Permainan ini kembali mengajarkan kita untuk menerima kenyataan menang atau kalah, memberikan perlindungan serta pertolongan kepada kawan. Permainan ini mengajarkan kita bahwa kalah atau menang itu hal biasa.

Begitu banyak pelajaran yang dapat diambil oleh anak-anak melalui permainan tradisional. Bahkan jika dapat dikelola dengan baik dan benar, permainan-permainan tersebut dapat memberikan gairah pada pelbagai aspek kehidupan, seperti aspek ekonomi. Kemudian juga melalui permainan tradisional dapat membentengi anak-anak dari pengaruh perkembangan teknologi yang tidak dapat disaring.

Dewasa ini kemunculan permainan berbasis teknologi telah menyebabkan permainan tradisional menjadi tidak diminati. Dalam hemat penulis, seiring ditinggalkannya permainan tradisional, seiring itu pula hilangnya sarana pembelajaran anak ihwal nilai, moral, norma, dan aspek kearifan lokal suatu daerah. 

Dalam hemat penulis, beberapa faktor penyebab hilangnya permainan tradisional anak antara lain; pertama minimnya lokasi tempat bermain bagi anak, terutama bagi anak-anak yang tinggal diperkotaan. Lapangan terbuka telah berubah menjadi lokasi hunian atau tempat hiburan yang berbasis teknologi. Kedua, permaian berbasis teknologi lebih menawarkan kemudahan bagi anak-anak, sebab tidak menunggu orang lain untuk memainkannya, praktis dan bisa di mainkan sendiri di rumah.

Tidak tersedianya waktu yang layak untuk anak-anak bermain dan berkumpul bersama teman-teman menjadi faktor yang ketiga. Sejak dini anak-anak telah disibukkan dengan urusan yang formal, seperti menuntut ilmu pendidikan. Bahkan dari pagi sampai petang, waktu anak-anak dihabiskan untuk belajar, baik di sekolah maupun di tempat kursus. Kemudian, faktor paling besar pengaruhnya ialah tidak adanya transfer pengetahuan tradisional dari generasi sebelumnya. Baik itu disebabkan oleh kesibukan maupun pengaruh lingkungan tempat tinggal.

Permainan tradisional anak kiranya perlu mendapatkan perhatian, meski keberadaannya ibarat mentimun bungkuk. Jika disandingkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, keberadaan permainan tradisional anak belum bisa mencuri perhatian orang tua. Ilmu pengetahuan dan teknologi tak pelak menjadi pilihan, semenjak dini anak-anak mesti dikenalkan kepada keduanya.

Kemudian sebagai warisan budaya tak benda, permainan tradisional anak perlu mendapat perhatian khusus dari pihak terkait, baik berupa inventarisasi maupun sosialisasi. Menjaga permainan tradisional anak agar tidak punah sama artinya menjaga kebudayaan. Sebagai bentuk ekspresi kebudayaan, permainan tradisional anak mengandung ragam unsur budaya, baik lisan maupun tulisan. Sungguh sangat disayangkan jika pewarisan unsur budaya tersebut hilang begitu saja. 

Melestarikan permainan tradisional anak merupakan upaya konkret yang dapat dilakukan dalam menghadapi era globalisasi. Sebab identitas suatu negara dapat diperlihatkan melalui kebudayaan. Untuk menjaga identitas tersebut, maka melindungi dan melesterikan produk kebudayaan menjadi sebuah keharusan.

Permainan tradisional anak muncul melalui proses kreatifitas yang bersumber dari nilai-nilai kearifan lokal suatu daerah. Permainan tradisional anak juga merupakan manifestasi kebudayaan seseorang atau kelompok yang mengarahkan bagaimana menghayati perbuatan dan kehidupan manusia. Melalui permainan tradisional, anak-anak dapat memperkuat jati diri, membentuk karakter yang insaf kepada keragaman dan kebersamaan. Semoga generasi yang lebih baik dapat terwujud. (*)  


Posting Komentar untuk "Memikir Ulang Keberadaan Permainan Tradisional Anak "