Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Istri Ketiga Sang Penari

Dari mana hendak kumulai cerita ini. Aku sulit mencari kata yang tepat, kata yang baik lagi benar. Aku takut kalau-kalau dia akan tersinggung, lalu mendepakku. Barangkali kumulai saja dari pasal yang biasa; pertemuan.

***

Foto dari Cinema Poetica

Lima menit lagi waktu yang tersisa bagi Numi untuk mempersiapkan segala sesuatu. Sebentar lagi dia akan mempersembahkan sebuah pertunjukan tari. Dia sangat canggung kali ini, musabab dia bakal tampil di depan Kuldi, seorang penari senior, juga pemilik sanggar tari yang paling digandrungi.

Dari hilir lalu ke mudik, Numi terus berputar-putar di depan cermin besar di ruang tunggu. Sesekali dia menggangkat gaun berwarnan biru yang belahannya hampir menyibak bulu halus di pahanya. Bibir tipisnya tak lupa pula dimonyongkan, kalau-kalau polesan gincu hitam belum rata benar. Pokoknya dari segi tampilan luar, tampaknya tak ada yang cacat dari Numi. 

"Sial! Kemana perginya keberanianku," gerutunya.

Kata orang, Numi adalah penari muda yang tengah naik daun. Rambut lujur nan gelap miliknya mampu menghipnotis penonton. Lebih-lebih bila dibiarkan tergerai. Ada yang meramalkan, kalau Numi adalah penerus Maria, penari paling tenar di masanya. Pendamping hidup Kuldi. Kabarnya, malam ini dia juga akan turut menonton persembahan Numi.

Di ruang pertunjukan terdengar riuh rendah suara penonton. Ruangan penuh sesak. Ada yang tidak kebagian tempat duduk. Mereka melayangkan protes kepada penyelenggara. Ada yang berbalik dengan membawa kekesalan, ada juga yang mencoba bertahan. Kalau-kalau ada penonton yang membatalkan kursi karena urusan mendadak, atau istri yang merajuk di rumah barangkali. Sebagian dari mereka yang memilih bertahan, mencoba mengintip melalui celah-celah, siapa tahu si penari bisa kelihatan. Begitu benar pesona Numi. 

Lampu utama panggung mendadak dimatikan. Penonton serentak hening. Lampu berwarna merah di pojokan menyala, menyorot ke tengah panggung. Tampak seorang perempuan bergaun biru menengadah ke langit-langit. Satu tangannya menyandang payung berwarna putih, satunya lagi memegang pinggang. Sementara salah satu betisnya menyembul ke luar gaun. Sungguh pemandangan yang indah. Numi, Si Penari Payung.

Lincah benar tubuhnya yang molek itu meliuk-liuk. Gerak demi gerak yang diperaggakannya seolah Kecubung yang diapikan. Membius. Membuat terlena. Persembahan yang hampir satu jam itu terasa sangat sebentar. Belum puas mata memandang, persembahan sudah selesai saja.

"Kalau Numi yang menari. Waktu satu-dua jam tidak cukup rasanya. Harusnya semalam suntuk," bisik salah seorang penonton kepada temannya.

Numi baru saja menyelesaikan pertunjukan. Tepuk tangan bergemuruh untuknya. Perasaan canggung berganti senyum sumringah. Tawa kecil kegembiraan. Sementara satu-satu karib kerabat menghampirinya ke atas panggung. Ada yang sekadar ingin berfoto bersama atau memberikan ucapan selamat.

Semakin lengkap rasanya kegembiraan Numi ketika Kuldi menghampirinya. Penari yang sudah lama diidolakannya. Penari yang secara tidak langsung telah memengaruhinya dalam menari. Rupa-rupanya Kuldi sangat puas atas apa yang ditontonnya tadi. Di pertemuan pertama itu Kuldi tak segan-segan menawari kesempatan yang barangkali berharga buat Numi; tampil di hadapan ribuan penonton di Jakarta.

Pendek cerita Numi menerima tawaran itu dengan muka yang jernih. Gayung bersambut, Kuldi pun menyanggupi menjadi mentor Si Penari Payung. Sepakat. Rundingan sudah dibuat. 

***

Karena keperluan pertunjukan di Jakarta, Numi mesti berlatih lebih keras lagi. Dia insaf benar pertunjukan tari di Jakarta jauh berbeda dengan pertunjukan yang selama ini dia tampilkan di kampung. Mau tidak mau, Numi mesti sering ke Sanggar Burung-Burung milik Kuldi guna belajar banyak soal olah gerak ini dan itu. Di sanggar itulah semua bermula.

Sudah sepekan Numi berlatih gerak di Sanggar Burung-Burung. Dia dilatih langsung oleh si empunya, Kuldi. Kuldi mengajarkan banyak hal kepadanya soal menari. Mulai dari memberikan latihan dasar penari profesional sampai kepada ceramah bagaimana menjadi seorang penari yang berkarakter, biar tidak mudah dilupakan orang. Di sanggar itu, Numi seolah dianakemaskan. Perlakuan yang demikian, tentu memunculkan gunjingan dari anak sanggar yang lain. Mujur benar nasib si Numi
.
Sudah berbilang pekan Numi beraktifitas di sanggar itu. Kini Numi sudah pandai menarikan Tarian Gamang, tarian yang menjadi andalan Sanggar Burung-Burung. Tarian tersebut dimainkan berpasangan. Makin mujur rasanya ketika mengetahui pasangan menarinya ialah Kuldi.

Rupa-rupanya Kuldi tidak hanya terposana dengan kelihaian Numi meliukkan tubuh di atas panggung. Dia juga menginginkan Numi supaya bisa menari bersamanya di atas ranjang. Laki-laki mana yang tidak terpedaya dengan kecantikan Numi. Kena lirikan matanya saja sudah membuat laki-laki keringat dingin. Mungkin itu juga yang membuat Kuldi menjadi tidak berdaya. Pun demikian dengan Numi, perempuan mana yang bisa menolak penari tersohor, pernah berkedudukan di kantor jawatan, pemurah hati untuk ukuran orang yang berada. Meski sudah terbilang tua.

“Apakah aku sudah terlalu tua bagimu Mas?” ucap Maria ketika mengetahui dia akan dimadu sekali lagi.

“Istriku yang baik, dengar dulu penjelasanku.”

“Lalu Rianti akan kau tempatkan di mana Mas?”

“Soal Rianti.”

“Berbagi satu ranjang untuk dua orang sudah sangat berat bagiku Mas. Aku tidak sanggup berbagi lagi.”

Keduanya hening.

“Aku tidak ingin dia menyamai ketenaranku di panggungmu. Aku tidak mau dia bernasib seperti aku dan Rianti.”

Keputusan sudah dibuat. Kuldi tetap ingin memperistri Numi. Pun demikian dengan Numi, dia bersedia menjadi istri ketiga sang penari. Harapan bisa menjadi penari tersohor tumbuh dengan subur dalam sanubarinya.

***

Satu pekan lagi Kuldi dan Numi bakal melawat ke Jakarta. Mereka akan mempersembahkan Tarian Gamang di hadapan ribuan penonton. Sebagai langkah percobaan tarian mereka, maka Sanggar Burung-Burung bakal mengadakan helat terlebih dahulu. Segala sesuatu sudah dipersiapkan, mulai dari kostum yang digunakan sampai kepada penataan panggung. Undangan pun disebarkan.

Entah apa yang sedang terjadi, helat Sanggar Burung-Burung sepi pengunjung. Kursi penonton hanya terisi sebagian. Tak tampak ada penonton yang berdesakkan di depan pintu masuk. Penonton yang nekad mengintip pun tak tampak. Tak terdengar sorak sorai penonton setelah lampu utama dinyalakan kembali. Tak ada lagi yang menghampiri Numi ke atas panggung untuk sekadar berfoto memberikan mengucapkan selamat.

“Memang benar ramalan orang. Kini Numi menjadi penerus Maria,” bisik salah seorang penonton kepada temannya.

“Iya. Numi telah menjadi penari tersohor milik Kuldi. Penari yang meliuk-liuk di atas ranjang, bersama dua istrinya yang lain.”

***
Maria dan Rianti dulunya adalah penari yang tenar pada masanya. Dulu sebelum bersuami. Maria penari tradisi yang lihai memainkan Tarian Piring. Rianti penari yang lihai memainkan Tarian Selendang. Kini bertambah satu penari lagi di panggung Kuldi. Numi Si Penari Payung.



Hadel D. Piliang

Posting Komentar untuk "Istri Ketiga Sang Penari"