Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Deraissolalute

Oleh : Hadel D. Piliang

Afrodit mendadak gagu di dingin batu. Uranus yang dikebiri oleh Kronos sang Titan. Sekam memadam api. Melukis ngilu di wajah sendiri, siapa mau peduli? Angin menyiapkan peti mati bagi angan. Ketika semua sudah lewat. Engkau barangkali dapat melayarkan sepi atas langit. Hingga aku tak sempat menghitung pilu. Karena pilu dan ngilu punya jalannya sendiri.


Incolor.club

Melawat anak Adam yang berdosa. Dia mengejar bayangannya sendiri. Jalan semakin runcing. Batu semakin membatu, air seperti biasa, terus me'ilir'. Kecemburuan terlunta mencari tempat. Sementara Alif masih saja lurus seperti pertama. Hawa berdiri di ujung pintu. Tubuh mendingin lalu hangat, dingin, hangat, lalu membatu paruh waktu.

Merpati bulan Septa membawa serta Eros. Juga ada tukang kabar yang hangat. Laut dan langit saling terang. Pada angin yang menepuk dinding daun. Pada aroma kacang yang bikin penasaran. Ngilu pilu ada saja tapi cepat berlalu. Antara angin yang sesak, ada maka dan apa. Setelah gabak, ufuk menghijau. Lain pula dengan Afrodit yang medadak gagu itu.

Aku dan Engkau saling menyusu. Wajahmu kulihat melalui wajahku. Mana pula ada pembanding matamu. Tulangku, ku titipkan padamu kalau itu. Langit tersibak, lalu memerah. Aku berkicau burung, dan aku melenguh lembu. Anak kita sibuk memainkan mahkota dari daun pepaya, menyusun kembang di taman wisata imajinasi. Aku mendekap anakmu itu. Anak yang ku warisi.

Padang, 22 Februari 2017

Posting Komentar untuk "Deraissolalute"