Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berlayar Nyeri

Oleh : Hadel D. Piliang


Aku melayarkan diksi di helai bunga-bunga, agak satu dan dua tangkai.
Ketika langit tidak pernah lagi berkirim hujan.
Walau sekedar membasahi tenggorakan.
Maka ia layarkan saja segenap nyeri.

Darah makin kuat saja berdebur hingga ngilu.
Sekalipun kupu-kupu hendak mengumpulkan langit berkeping.
Sekalipun ikan-ikan hendak menyeru laut yang semakin membiru.
Dan gemuruh demi gemuruh bergumam saling silang.

Harap menjadi potret yang mengembun;
Pada setiap diksi yang berlayar satu-satu.
Pada setiap resah yang berkelindan.
Ia senantiasa terus menggema lalu berseru.

Degup demi degup makin keras alirnya di dalam jantung, 
getar demi getar berputar di dalam kepala. 
Sampai purna seluruh pencarian yang mematung. 
Segenap percakapan henti di dalam diri, sunyi di dalam kira-kira.

Maka bacalah tarian burung dan bunga.
Dengarkanlah bisikan pohon pada rerumputan. 
Adakah Engkau menemukan diksi-diksiku memadat dalam desah nafasmu?

GP, di waktu merindu engkau 

Posting Komentar untuk "Berlayar Nyeri"