Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Salah Intonasi

Oleh : Hadel D. Piliang

redbloggy

Sudah seminggu ini cuaca di kamarku agak sedikit berbeda. Dindingnya tak lagi basah berembun di kala malam meninggi. Alas tidurku tak lagi berserakan, demikian juga tirai jendela yang selalu terbuka ketika aku terbangun, sehingga udara bebas masuk hilir mudik.

Lalu tadi subuh, ada kejadiaan yang aneh, aku didatangi oleh diriku yang lain. Rasanya itu bukan di dalam mimpi. Sebab, sudah hampir bertahun-tahun aku tak pernah memimpikan diriku sendiri.

Aku semakin heran ketika diriku yang lain mengajak bercerita. Ceritanya tentang diriku.

“Kamu tidak takut?" dia membuka kata dengan sebuah kalimat tanya yang terkesan penuh basa-basi.

“Takut?” tanyaku. “Tentu saja aku tidak takut,” aku menukas sebelum ia sempat berbicara.

Dia terdiam sejenak, memperhatikan jam dinding yang terus berdetak. Sesekali dia melihatku, kemudian dia menoleh kembali ke jam dinding.

“Kamu tidak takut?” dia kembali bertanya dengan nada yang sama kosongnya dengan sepasang mata yang sangat aku kenal itu.

“Tidak” jawabku pasti.

“Bagaimana dengan dia?” lanjutnya.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku menarik selimutku dalam-dalam sehingga badanku terbenam dalam kain hangat bercorak sosok kartun kesukaanku.

Dia tetap berada di dekatku, tepat di ujung kaki. Aku pura-pura tidur saja, berharap diriku yang lain itu segera pergi.

“Kenapa kau masih saja disitu?” tanyaku setengah jam kemudian.

“Benarkah kau tidak takut?” kembali dia bertanya.

Pertanyaannya kali ini benar-benar membuatku muak. Ingin rasanya aku hantarkan saja dia ke tempat di mana semua orang tidak bisa bertanya-tanya lagi.

“Kau sungguh ingin mendengar jawabanku?” kataku dengan nada yang ditenang-tenangkan.

“Baiklah, aku katakan kepadamu, aku tidak takut, apa yang harus aku takutkan?”

“Kehilangan” dia memotong ucapan.

“Tidak, kehilangan sudah menjadi hukum bagi orang yang mendapat, sudah biasa dalam hidup ini orang-orang mendapat kehilangan,” aku menjawab seakan mengguruinya.

“Lalu bagaimana pengkhianatan?” dia menanyai ku lagi.

“Tidak pantas rasanya aku mendapati pengkhianatan, di mana kepercayaan dan kasihku sudah tertumpah kepadanya seorang,” jawabku.

“Kau mempercayainya?”

“Tidak ada alasan bagiku untuk tidak mempercayainya. Sudah menjadi untung burukku jika kepercayaanku mendapat pengkhianatan” aku menjawab pertayaan itu dengan tetap menjaga rasa percaya yang tidak akan dikhianati.

Ingin rasanya aku kembali pura-pura tidak mendengarkan setiap pertanyaan darinya. Sebab setiap pertanyaan-pertanyaan itu membuatku goyah. Aku pernah membaca karangan filsafat Emmanuel Levinas mengenai tanggungjawab.

Aku sadarkan jika berhadapan dengan orang lain sebagai subyek. Dalam benakku individu subjektif dan otonom sudah barang tentu terikat tanggung jawab dan segala sikap yang diambil dalam kesadaran sehari-hari senantisa berdasar pada tanggung jawab itu. 

Aku berfikir lagi, tak mungkin seseorang bisa keluar dari lingkaran tanggung jawab selama masih terus berada dalam satu tatanan yang memberi arti, nilai, dan tujuan manusia itu sendiri.

Tapi Abert Camus pernah mengingatku dalam sebuah karangan yang sempat aku baca. Dia seolah setuju dengan Sartre. Dia berkata 

“Neraka adalah orang lain,”

Kali ini aku boleh tidak percaya dengan mereka berdua. Bagiku, dalam keyakinanku, orang lain akan mau berbagi surga untukku. 

Ah, Camus hanyalah penghubung absurditas dengan eksistensialisme.

“Apa yang kau pikirkan?” pertanyaan dari diriku yang lain mengagetkan masa kotemplasiku.

“Aku tidak memikirkan apa-apa. Aku hanya mengembalikan keyakinanku yang pernah kau rampas”. Jawabku.

‘Cara terbaik mempercayai seseorang adalah dengan mempercayainya.’ Demikian Ernest Hemingway menasehatiku. Kadang Hemingway pernah memberikanku sebuah lelucon yang sampai ini aku terus aku pegang. Dikatakannya “Pria yang paling kesepian di dunia ini adalah pria yang memiliki istri yang baik, dan dia hidup sendiri untuk waktu yang lama setelah istrinya meninggal”.

“Adakah dia mempercayaimu juga?” dia memberikan pertanyaan yang tidak pernah muncul dalam benakku sebelumnya.

Sebenarnya aku ingin pertanyaan ini ‘dia’ yang menjawabanya. Demikian juga pertanyaan tentang apakah ‘dia tidak akan mengkhianatiku, atau pertanyaan ‘apakah dia mencintaiku?’.

Di penghabisan aku harus katakan ‘Aku harus bersikap tenang walaupun takut untuk membuat seseorang tidak takut’

Posting Komentar untuk "Salah Intonasi"