Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kekkon Sheyou

Oleh : Hadel D. Piliang


Seorang kakek---kira-kira usianya 20 tahun lebih tua dari revolusi yang katanya pemberontakan---terlihat gelisah di tepi pantai. Kakek itu duduk dengan mantap di pohon kayu yang belum lama ini tumbang. Sementara orang-orang yang ada di sekitarnya, ketika itu memilih duduk beralas pasir. Sepertinya orang-orang itu adalah kumpulan manusia yang melepas perginya matahari untuk hari itu.

Wajah khawatir tergurat jelas dari wajah si kakek. Wajah seperti sedang menunggu ada pula sepertinya. Kata wanita yang biasa menjaja minuman kaleng di pantai itu, si kakek sudah sedari tadi melongo di sana. Dan wajah itu pun tak berbeda.

"Sama gelisahnya," ujar si penjaja, sambil menyodorkan dagangannya ke arahku.

Kata seorang pengamen yang sudah dari kecil mangkal di sana, kakek itu tadi berdua, bersama seorang nenek. Nenek itu memakai topi pantai. Di tangan nenek itu ada sebuah tali.

"Entah tali entah rantai," seperti itu keterangan seorang pengamen yang sibuk dengan gitar yang senarnya putus satu.

Tepat di samping kakek itu duduk, kira-kira berjarak delapan depa. Ada sepasang kekasih. Menurut pasangan kekasih itu, yang laki-laki. Tadi kakek dan nenek itu terlihat sedikit bersitegang. Si nenek sedikit agak keras, ia menuntun si kakek duduk di pohon tumbang itu. Sedikit terdengar kata-kata nenek itu.

“Duduk di sini jangan kemana-mana” seperti itu.

Pasangan si laki-laki mengiyakan perkataan si laki-laki. Dan ia menambahkan, kalau si kakek tidak mau duduk. Si kakek malah memengang pundak si nenek, seperti menuntun untuk duduk. Sedikit terdengar kata si kakek.

“Duduk di sini, biar aku saja yang pergi” seperti itu.

Namun, yang memenangkan kursi pohon itu adalah si kakek. Si nenek yang terlihat pergi. Si nenek tak tentu arah harus pergi kemana. 

"Semula ia terlihat pergi kearah selatan, tapi kembali berbalik ke arah utara," seperti itu keterangan penjualan balon yang mangkal di belakang si kakek, berjarak sekitar sebelas depa.

"O, tadi terdengar perdebatan si kakek dan si nenek," seorang turis yang sudah agak fasih berbahasa Indonesia ikut memberi keterangan. 

"Tadi terdengar tapi sedikit kurang jelas. Kira-kira si kakek dan si nenek bicara tentang kehilangan. Tapi entah sesuatu apa yang telah hilang." Si turis tidak tahu apa selanjutnya.

Anak gadis yang berkunjung di pantai memberi keterangan bahwa tadi sekitar jam 4 sore ia melihat si kakek dan si nenek berjalan di bibir pantai. 

"Kalau tidak salah dari arah selatan. Mereka bergandengan tangan, supaya kaki-kaki rapuh mereka sedikit menjadi lebih kuat. Dan benar, si nenek seperti memegang sesuatu. Entah tali entah rantai. Tidak terlihat karena terlalu jauh," anak gadis itu berusaha meyakiniku dengan keterangannya.

Si kakek makin gelisah. Sementara matahari sudah hampir terendam. Ia melihat ke utara dan kemudian menoleh ke selatan. Ia berkeringat. Rambut putihnya basah begitu pun jengat di wajahnya. Sambil sesekali ia lap keringat dengan sapu tangan coklat yang sudah sangat usang. Sepertinya sapu tangan itu sangat bersejarah baginya.

Bokong si kakek terlihat tak serasi dengan pohon, itu yang menyebabkan ia sesekali menggoyangnya. Tapi, ada perasaan sangat kuat yang membuat si kakek tak mau berdiri dari tempat duduknya. Perasaan itu seperti lem perekat.

Dari arah selatan terlihat si nenek berjalan pelan. Si nenek memperlihatkan wajah yang sama seperti wajah si kakek. Bahkan lebih gelisah, dan lebih padam, dalam. Ia kini sudah berada di dekat si kakek, duduk persis di sebelah kiri si kakek.

“Sudah tidak ada” si nenek membuka pembicaraan.

“Sudah tidak ada.. ya, sudah tidak ada” si nenek mengulangi perkataannya.

“Sudah tidak ada bersama kita, sudah pergi jauh entah kemana” si nenek menutup pembicaraannya dengan mata yang berkaca.

Si kakek hanya diam tak menjawab.

“Apa lagi yang harus kita lakukan?” si nenek kembali memulai perbincangan, setalah lama mereka terhening.

“Sudah tidak ada” si kakek menjawab pelan.

Suasana hening kembali. Sementara matahari sudah terbenam separo.

Mereka saling bertatapan. Si kakek tersenyum. Senyum si kakek di balas senyum si nenek. Senyum yang kelamaan menjadi tawa kecil dan kelamaan mereka terbahak. Mereka bangkit dari duduknya, dan berjalan mesra menyusuri bibir pantai. Gandengan tangan mereka memberikan kekuatan pada kaki-kaki mereka yang rapuh. 

Ada satu yang belum ku minta keterangan. Pohon tumbang yang diduduki si kakek belum memberikan keterangan. Abu Hamid Al Ghazali pernah menasehatiku "hiduplah kamu bersama manusia sebagaimana pohon yang berbuah, mereka melemparinya dengan batu, tetapi ia membalasnya dengan buah. ***

Posting Komentar untuk "Kekkon Sheyou"