Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dialog Hening

Oleh : Hadel D. Piliang


Pada malam yang mendekapmu
Pada terang yang entah kau rindukan
Pada Hafazhah yang bersetia denganmu
Pada intonasi jiwa yang kau sebut bisikan

Dunia hanyalah tiang yang terus kecil dan mendingin
Kadang juga menjelma tangan-tangan hangat yang beku
Manusia hanyalah batu yang berjalan secara perlahan
Peradaban adalah pohon yang kian kering bersama waktu

Engkau tumbuh secara sunyi dan rahasia
Sejak semula engkau sudah lupakan segala kalimat tanya
Adakah dunia ini punya siang punya malam?
Atau benarkah bulan itu tetap indah ketika kelam?

Engkau bernafas dengan nur di atas segala nur
Menyala tanpa api seperti mawar mekar dalam keheningan
Segala wewangian padam pada kedalaman matamu
Engkau merasakan nikmat dengan panas dan dinginnya
Panas yang membakar keikhlasan beserta nasib
Sedang dingin selau saja lembut dan putih
Barangkali engkau ingin menjelma burung
Menyingkap mata angin dengan sayapmu.

Biarkan saja pengelana tua mengembara dibibirmu yang dingin
Yang tidak tahu kapan datangnya dan kapan ia harus pergi
Kemudian saat matahari berlari dari kejauhan
Kau dekaplah ia dengan kecintaan Ilahi

Posting Komentar untuk "Dialog Hening"