Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi yang Menjelma Engkau

Oleh : Hadel D.Piliang


Entah bagaimana mulanya, perhatianku selalu saja tertuju pada laut.
Pada ketenangan yang ingin aku selami.
Pada pusaran yang kuharap menyeretku tenggelam lebih jauh.
Pada gravitasi yang tak berfungsi di hadapan engkau.

Aku hadir dalam ketiadaan engkau.
Dan engkau selalu saja sederhana dalam ketidakmengertian. 
Kontemplasiku jadi prematur.
Gerak engkau tidak pasti.
Antitesa menjadi stagnan, sebab sintesa menjelma engkau.

Ketenangan tak bisa mengusir ketenangan.
Engkau saja yang bisa.
Kelam selalu kalah dengan kelam.
Tapi engkau tidak.
Sebab itu, langit begitu merindu engkau.

Langit mencintai engkau karena semesta merestui.
Di pengakhiran, tidak ada yang bisa memaksa. 
Tidak juga janji atau kesetiaan.
Sebab sifat laut pada engkau, tidak dipaksa dan memaksa. 

Cinta tidak hanya pikiran, tapi juga kenangan.

Langit memandang laut dalam-dalam lekat hingga ke dasar. 
Demikian juga aku.
Aku memuji engkau dengan kalimat terbaikku. 
Bahkan aku merasa kekurangan bahasa.

Engkau melangkakan kalimat cinta yang ada di diriku.
Diksiku seakan kehilangan makna di hadapan engkau.
Aku kehilangan cara menyanjung engkau.

Aku paham benar, kata-kataku tak seindah untaian kata Rumi. 
Juga tak sepandai penulis tua yang selalu engkau baca karangannya.
Jika engkau belum merasa cukup, lalu apa lagi yang bisa kuberikan?
Sebab, puisiku telah menjelma engkau.

Gunungpangilun, di malam yang menjelma engkau

Posting Komentar untuk "Puisi yang Menjelma Engkau"