Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menziarahi Makam yang Bernama Kesunyian

Oleh : Hadel D. Piliang


Hujan yang merintiki kepala, seakan tahu maksudku.
Jarum-jarumnya meluruskan sarafku yang selalu memutar kaset berjudul 'ia'.
Boleh jadi, hujan tak enak hati dengan irama cemburu.
Boleh jadi juga, aku yang semakin hari yang semakin perasa.

Aku menyilau kembali ke masa di mana masih tidak ada aku.
Barangkali dia lebih syahdu dari hari ini.
Barangkali juga, sebelum hari ini dia lebih sendu.
Yang jelas, semakin jauh saja kita ini.



Konco, di Malam yang berair

Posting Komentar untuk "Menziarahi Makam yang Bernama Kesunyian"