Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Agseora

Oleh : D. Piliang

Kujalani lagi setapak yang telah lama aku tinggalkan
Setapak yang bunganya selalu mekar di ujung musim penghujan
Bunga yang berkilau kaca ketika terkena sinar kemerahan
Kilaunya tak kalah dengan pelangi dikala itu

Kuulangi lagi masa ketika aku berada di puncak tertinggi
Lebih tinggi dari bintang yang tergantung di jendela kaca anak perawan

Kini aku tak perlu lagi merasa sedih ketika kenangan datang sepintas lalu
Kini aku merasa sebagai mahluk yang paling beruntung
Bahkan keberuntanganku menghancurkan kejayaan Dewi Fortuna
Itu karena aku menemukan harapan di gang sempit mata beningmu
Itu karena aku menemukan kehangatan di setiap lekuk tubuhmu
Itu karena aku menemukan keajaiban yang tak aku mengerti penjelasannya

Ya, Agseora begitu aku menyebutmu
Seseorang yang datang dengan lilin berbentuk hati
Lilin yang dijanjikan untuk menerangi setapak milikku yang tertinggal

Aku bersamamu, meski aku belum mengerti bagaimana jalan yang tersisa untuk kita, katamu

Apa yang telah membuat kita saling jatuh dalam jarak yang berjauhan
Apa yang membuatku begitu yakin dengan agseoraku
Aku menamai semua itu keajaiban, ya keajaiban yang tidak bisa kita jelaskan
Kita hanya bisa menyerahkannya pada kepercayaan dan rasa saling mengerti

Di gang sempit ini, di mana matahari terbit malu-malu
Aku menjatuhkan segala rindu kepada agseoraku
AKu tak segan mengatakan, aku cinta padamu agseora
AKu harap kau tak malu dengan perangai kekanak-kanakanku

Saat kita berada di nadir yang berjelaga
Mari kembali ke masa di mana kita saling mencintai
Aku mencintaimu agseora
Di tempat ini aku menunggu, rindu yang belum tuntas.

Posting Komentar untuk "Agseora"