Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melek Politik

Kata politik merupakan kata yang sangat sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, bahkan politik juga telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Namun, banyak dari kita tidak memahami benar apa itu politik dalam artian yang sebenarnya.

Foto : kaskus.co.id

Secara umum masyarakat awam hanya meraba-raba dan menerka-nerka arti dari kata politik, sehingga seringkali kita temui pemaknaan yang salah tentang arti politik yang sebenarnya, bahkan juga banyak dari masyarakat tidak mengenal sama sekali apa itu politik.

Sebagai rakyat dari negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi kita diwajibkan untuk melek politik, sebab politik adalah usaha yang ditempuh oleh masyarakat untuk kepentingan bersama (teori klasik Ariestoteles). 

Masyarakat yang melek politik dianggap telah memberi kontribusi dalam mengupayakan kebaikan bersama. Nah, sekarang permasalahannya adalah seperti apa usaha-usaha yang harus dilakukan supaya masyarakat melek akan politik?

Sebenarnya untuk melek politik kita tidak harus menempuh jenjang pendidikan tinggi, khususnya penjurusan ilmu politik terlebih dahulu. Sebab politik itu adalah bagian dari diri kita sendiri atau jika kita meminjam istilah Ariestoteles disebut dengan zoon politicoon, manusia adalah insan politik. Sehingga sebagai manusia, kita dituntut untuk memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan diri kita sendiri termasuk itu politik.

Secara sederhana aktivitas politik yang sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam lingkup rumah tangga. Dalam suatu rumah tangga (keluarga) pada umumnya terdiri dari suami, istri dan beberapa orang anak. Suami diberi jabatan sebagai kepala keluarga yang bertugas untuk mengatur dan mendisiplinkan anggota keluarga demi menuju tujuan bersama, yaitu mencapai kebahagian dan kesejahteraan. Sehingga untuk mencapai tujuan tersebut terdapatlah sebuah bentuk kekuasaan, peraturan-peraturan, hak-hak serta kewajiban-kewajiban yang disepakati bersama dalam sebuah keluarga.

Aktivitas politik dalam lingkup yang lebih luas lagi adalah politik dalam konteks berbangsa dan bernegara. Aktivitas politik berbangsa dan bernegara sering juga disebut sebagai politik praktis. 

Politik praktis secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan dalam rangka perebutan kursi kekuasaan. Kekuasaan disini dapat kita artikan sebagai posisi dimana seseorang dapat mempengaruhi orang lain dengan hak-hak dan kewajiban yang dimiliki serta dengan peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan. 

Sedangkan kursi kekuasaan disini sama artinya dengan kursi kepemimpinan. Kemudian aktor-aktor yang melakukan kegiatan politik praktis ini disebut sebagai politisi, dan media politisi berpolitik disebut partai politik (parpol).

Pentingnya melek politik

Tidak lama lagi masyarakat Sumbar umumnya dan Kota Padang khususnya akan disuguhkan perhelatan besar, yaitu pesta pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada). Mau atau tidak masyarakat Padang harus menyelenggarakan perhelatan tersebut, sebab peran masyarakat sangat menentukan dalam proses pencapaian kepentingan bersama. Oleh sebab itu, untuk turut memeriahkan pesta demokrasi tersebut masyarakat Sumbar dan masyarakat kota Padang khususnya terlebih dahulu harus melek politik. Nah, disinilah letak pentingnya pemahaman politik ditengah-tengah masyarakat.

Sebagai negara yang menjunjung tinggi asas-asas demokrasi maka rakyat akan diberikan kesempatan yang sebesar-besarnya untuk memilih dan menentukan siapa sosok yang dianggap mampu menjadi pemimpin negara. Kesempatan tersebut diwujudkan dalam bentuk pemilihan langsung atau pemilihan umum (pemilu). Di kesempatan inilah seharusnya masyarakat mengimplementasikan pemahaman politik mereka agar nantinya pemimpin yang akan dipilih benar-benar merupakan pilihan yang tepat.

Menurut hemat penulis lebih dari setengah masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat Sumbar kurang paham akan politik. Seringkali masyarakat pada umumnya memaknai politik sebagai berikut. 

Pertama, politik seringkali dikatakan identik dengan konflik, dimana ada kegiatan politik disitu ada konflik. Kedua, politik sering diartikan sama dengan kegiatan bisnis orang-orang berduit. Ketiga, politik dianggap bukan sebagai sebuah solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah negara.

Sangat ironis memang dengan prinsip negara yang selalu digadang-gadangkan sebagai negara berasaskan nilai-nilai demokrasi. Disatu sisi negara sangat getol mengkompanyekan sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat namun disatu sisi rakyatnya sendiri tidak paham akan usaha-usahanya untuk mencapai nilai-nilai demokrasi itu sendiri. 

Sehingga dalam hal ini seringkali muncul pemikiran "kritis" seperti mulai mempertanyakan rakyat Indonesia itu siapa saja, dan apakah yang orang-orang yang paham politik sajakah yang dianggap sebagai rakyat? 

Jawabannya kembali kepada pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam aktivitas politik itu sendiri. Maka, melek politik merupakan keharusan bagi rakyat yang berdemokrasi.

Sejauh ini menurut hemat penulis pemahaman masyarakat Sumbar akan kegiatan politik  hanya sebatas mengikuti pemilihan umum (Pemilu), mendengarkan kampanye, coblos-mencoblos nomor, wajah, gambar partai politik, dan pada akhirnya mengutuk-ngutuk karena salah memilih pemimpin yang tepat.  Sehingga masyarakat yang seringkali menjadi korban kampanye adalah masyarakat yang belum melek politik. Masyarakat yang seperti ini adalah masyarakat yang sering menerima janji-janji, amplop-amplop, baju-baju, jilbab berlogo parpol dsb. Sehingga masyarakat yang seperti inilah yang akan mengutuk-ngutuk pada akhirnya.

Terkait dengan pemahaman politik masyarakat, langkah-langkah apa sajakah yang harus ditempuh masyarakat dalam rangka melek politik? 

Disini penulis akan memberikan beberapa saran yang mudah-mudahan dapat membantu. 

Pertama, luangkan waktu 5 menit untuk berbincang politik dengan keluarga, teman-teman seprofesi disaat bekerja, baik itu di pasar, di warung dan lain sebagainya. 

Kedua, ikutilah masa-masa kampanye dengan sebagaimana mestinya, seperti memilah janji-janji atau visi-misi calon pemimpin yang dinilai menguntungkan masyarakat dan visi-misi tersebut bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya cerita dalam mimpi, kemudian jangan pernah menerima sogokan dalam bentuk apapun, sebab lebih baik pahit-pahit dahulu untuk menikmati manis kemudian hari. 

Ketiga, selalu memantau kegiatan-kegiatan politik yang tengah berlangsung, apakah ada kejanggalan ataukah sudah berjalan dengan semestinya, hal ini dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan atau peraturan-peraturan yang dibuat apakah menguntungkan masyarakat banyak atau tidak.

Masyarakat Politik

Masyarakat politik secara sederhana dapat dimaknai sebagai masyarakat yang sadar akan politik atau masyarakat yang keikutsertaannya menjadi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab tugas-tugas negara bersifat menyeluruh dan kompleks, sehingga tanpa dukungan positif dari seluruh warga negara atau masyarakat, tugas-tugas negara akan banyak yang tertunda bahkan menyeleweng dari apa yang telah digariskan.

Masyarakat politik yang terdiri dari elite politik dan massa politik serta menjadi peserta rutin dalam kompetisi politik harus dibangun sebagai komponen masyarakat yang mempunyai etika politik dalam demokrasi. 

Masyarakat harus disadarkan bahwa demokrasi bukan hanya kompetisi bebas dengan menggunakan partai-partai untuk merebut jabatan pemerintahan, tetapi demokrasi juga adalah menghormati harkat martabat hidup manusia dan membangun sistem politik, ekonomi, dan sosial yang mandiri.

Posting Komentar untuk "Melek Politik"