Selasa, 24 Maret 2020

Trip to Museum, Menjemput yang Tercecer di Rumah Kelahiran Sang Buya

Jujur saja, awalnya mengunjungi museum bagi saya merupakan aktivitas yang membosankan. Betapa tidak, di museum hanya ada benda-benda peninggalan, baik peninggalan tokoh maupun saksi bisu dari peristiwa yang memiliki kadar historis. Kepalang mujur ada spot yang bagus buat berswafoto. Itu dulu! 

Namun, setelah saya mengunjungi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, saya justru dibuat lupa kalau saya tengah berada di museum.

Rabu (18/3) pagi, lagu-lagu epik Scorpion menemani perjalanan saya dan rekan-rekan Jelajah Agam menuju kawasan Danau Maninjau. Niat hati, kami akan menuju spot-spot wisata yang mengandung unsur sejarah di Kecamatan Tanjung Raya.

Bak gayung bersambut, kedatangan kami disambut Handria Asmi, Camat Tanjung Raya. Jujur saja beliau di luar ekspektasi saya tentang konsep seorang camat. Muda, enerjik, bersemangat, dan tentu bersahabat.

Ya, seperti pasal biasa, yang namanya bertamu tentu ada baiknya kita suwon dulu ke yang empunya rumah. Alhamdulliah, izin diperoleh. Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka jadi list pada urutan pertama. Let's go gank.


Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Berjarak 5 KM dari kantor kecamatan atau sekira 7 menit berkendara kita sudah sampai di lokasi. Nah, di perjalanan menuju lokasi, saya disuguhkan spot atau lokasi-lokasi yang menyimpan banyak historis, seperti Rumah Rasuna Said, Makam H. A. Karim Amrulluh dan Kutubchanah, janjang saribu, Masjid Muhammad Amrullah, Masjid H. Karim Amrullah, dan sejumlah masjid megah lainnya.

Tapi sanak, pada lain kesempatan kita akan kunjungi spot-spot tersebut. Kali ini yuk kita intip dulu museum yang konon menjadi saksi lahirnya Ulama besar Minangkabau, sastrawan ternama, diplomat, jurnalis, politikus, HAMKA.

Pemandangan yang disuguhkan membuat saya terhipnotis, dan tanpa sadar sudah sampai ke lokasi. Sesampainya saja di pagar museum, saya sudah dihidangkan dengan ragam buku karya HAMKA yang dijual di lapak sederhana. Meski tidak terbilang lengkap, namun hampir sebagian besar magnum opus HAMKA ada di sini. 


Buku-buka karya Buya Hamka

Bagi sanak penggemar karya HAMKA, tidak ada salahnya menengok lapak tersebut. Kalau-kalau ada buku yang bisa melengkapi koleksi sanak. Tapi hati-hati ya sanak, si penjual bilang, di sini ada dua versi buku. Ya. You know lah.

Oke. Bismillah. Satu per satu langkah saya terasa pasti saat menyusuri anak tangga museum. Darr...Takjub bukan kepalang saat berada di halaman museum. Menoleh ke sisi belakang saat berdiri, hamparan Danau Maninjau dengan garis batas tepi bukit menjadi bukti betapa sayangnya Tuhan kepada mahluk yang haus keindahan seperti saya ini. ;)

Di dalam museum tampak seorang bapak berbaju batik dengan kopiah di kepala. Senyumnya mengingatkan saya pada pengarang Tuan Sabir. Beliau adalah Pak Dasri, pemandu histori di museum.

Oiya sanak, museum ini tidak pula terlalu besar. Konon katanya bentuk bangunnya pun sudah direnovasi dari keadaan semula. Namun masih tetap mempertahankan ciri khas Rumah Gadang.

Bicara isi museum, ya jujur saja seperti yang saya tulis di atas, cuma ada benda peninggalan sang buya, buku dan sejumlah potret.

Tapi sanak, yang membuat saya candu berada di museum ini adalah Pak Dasri. Pria bersahaja ini punya 'gezah' yang membuat saya 'mencintai beliau'. Dari pengalaman dan penuturan beliau tentang sosok HAMKA saya serasa berada di dimensi dimana sosok HAMKA hidup. Nyata sanak.


Pak Dasri

Barangkali di internet ataupun buku-buku banyak referensi yang menceritakan tentang HAMKA, namun menurut saya serasa tidak lengkap. Akan sangat lengkap rasanya mencari tahu langsung puzzle-puzzle tersebut di museum ini.

Tahukah sanak, kalau semasa kanak-kanaknya Buya HAMKA juga pernah bandel? Tahukah sanak, pengalaman hidup pahit sedari kecil yang membentuk karakter tangguh sang buya? Dan tahukah sanak, kalau HAMKA adalah Romeo versi Sungai Batang. Di musuem inilah sanak akan mengetahui hal-hal yang luput diketahui dari sosok HAMKA.

Maafkan saya banyak-banyak sanak, saya tidak bisa berbagi cerita Pak Dasri tentang sosok buya di sini. Itu saya sengajakan sanak, supaya sanak ke sini, kalau saya ceritakan di tulisan ini, kapan lagi sanak ke sini. Ya keun :)

Durasi dua jam rasanya sangat sebentar saat berada di museum ini. Ingin sekali rasanya berlama-lama. Suhu ruangannya sangat sejuk sanak, nyaman sekali. Barangkali karena posisi museum persis berada di tepi danau.

Kapan-kapan mampirlah ke sini sanak. Bagi orang-orang mancanegara seperti Malaysia dan Brunei, museum ini menjadi destinasi wajib ketika ke Ranah Minang. Tak ada pungutan biaya. Hanya ada semacam baki kecil yang digunakan untuk menaruh derma seikhlasnya. Saya tunggu sanak di nagari Si Sabariah ini.

Jangan lupa bahagia hari ini.

Senin, 23 Maret 2020

Melawat ke Kutubchanah, Menengok Manuskrip Tua Peninggalan Nyiak DeEr

Rabu (18/3) selepas Ashar, sepoi angin Danau Maninjau menyambut kedatangan saya ke Makam Syech A. Karim Amrullah di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Riak air danau yang menghempas tanah tepi terdengar jelas dari halaman bangunan bersejarah itu. Suasana desa masih ketara, anak-anak memangku kitab menuju surau. Dua oran laki-laki paruh baya melempar kail ke danau sembari berteduh di bawah pohon kelapa. Asri betul.

Kutubchanah
Cagar Budaya Makam Syech A. Karim Amrullah

Perjalanan Jelajah Agam kali ini, saya dan rekan-rekan berkesempatan menyambangi salah satu Cagar Budaya di Kabupaten Agam. Makam Syech A. Karim Amrullah. Konon, makam ini dahulunya berada di Jakarta. Pada tahun 2000, barulah lokasi makam berada di Nagari Sungai Batang.

Untuk menuju lokasi, menurut saya tidaklah terlalu susah. Jalan yang cukup lebar dengan aspal sempurna memudahkan lajunya kendaraan. Karena ini perkampungan, tentu saja sanak mesti berhati-hati bila berkendara, kalau-kalau ada warga berjalan di sisi jalan.

Berjarak 4 KM dari ibukota Kecamatan Tanjung Raya. Kalau dari ibukota Kabupaten Agam, Lubuk Basung, berjarak sekitar 59 KM. Posisinya sekira 15 Meter dari jalan raya.

Di sepanjang jalan, keindahan Danau Maninjau membuat mata saya terbelalak. Melihat nelayan bersampan di danau menjadi momen pengobat penat. Segerombolan bangau berkubang di sawah menjadi candu bagi saya. Sanak mesti melihatnya sendiri. Jangan lupa bawa alat untuk memotret.

Jika sanak dari Lubuk Basung, akan banyak sekali objek wisata yang akan dilewati, dua di antaranya yang terkenal Objek Wisata Muko-Muko dan Objek Wisata Linggai Park.

Nah, kembali ke destinasi yang kami kunjungi, makam tokoh yang sangat berpengaruh dalam pembaharuan Islam ini. Konon, dari cerita yang saya dengar dari pengelola Cagar Budaya, H. A. Karim Amrullah merupakan ayah dari ulama lagi sastrawan besar, Haji Abdul Malik Karim Amrullhah alias Hamka.

kutubchanah
Makam Syech A. Karim Amrullah

Diceritakan, H. A. Karim Amrullah lebih dikenal dengan sapaan Inyiak DeEr. Pemakaian nama Inyiak DeEr (dari doktor) adalah diambil dari sapaan akrab Dr Haji Karim Amrullah, dimaksudkan untuk mengenang jasa-jasa tokoh yang lahir di Sungai Batang pada 10 Pebruari 1879 dan meninggal di Jakarta 3 Juni 1945 itu.

Inyiak DeEr merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau pada awal abad 20. Konon, lewat kepiawaiannya, Muhamadiyah berkembang pesat di Ranah Minang ini. Beliau juga berhasil merintis Sumatra Thawalib Padangpanjang.

Jika dilihat dari bentuk bangunan, Cagar Budaya ini tidak ubahnya dengan bangunan rumah bagonjong yang banyak ditemui di Nagari Sungai Batang. Namun, dari sisi historisnya, makam ini menyimpan banyak cerita, baik yang sudah terungkap maupun yang belum terungkap.

Salah satunya Kutubchanah yang berada persis di belakang makam. Kutubchanah merupakan bahasa yang disadur dari Bahasa Turki. Artinya adalah perpustakaan.

kutubchanah
Kutubchanah

Saya berkesempatan menengok ke dalam Kutubchanah. Ruangannya tidak terlalu besar. Hanya ada dua ruangan bersekat. Di sisi Utara terdapat semacam ruang tamu dengan sejumlah foto-foto peninggalan Nyiak DeEr dan keluarga.

Persis di Barat dan Selatan terdapat dua lemari kaca. Di dalam lemari tersebut terdapat banyak sekali arsip. Konon, arsip-arsip tersebut ditulis dalam Bahasa Arab. Arsip-arsip tersebut merupakan koleksi bacaan milik Nyiak DeEr.

Yang membuat saya tercengang lagi, di perpustakaan ini terdapat Alquran yang ditulis manual dengan tangan. Walapun, sebagian besar arsip memang ditulis tangan.

kutubchanah
Alquran yang ditulis tangan

Dahulunya, di lokasi ini tidak hanya ada makam dan Kutubchanah. Tapi, persis di tepi danau menghadap ke jalan raya ada bangunan dua lantai yang konon bersejarah bagi Nyiak DeEr. Namun sayangnya, saat ini bangunan tersebut sudah tidak ada. Hanya ada bekas dasar tiang bangunan di beberapa pojokan.

Rasanya masih banyak lagi hal yang ingin saya ketahui di Cagar Budaya ini. Hanya saja, saya belum menemui narasumber yang paham banyak tentang tempat ini, dan tentunya tentang Nyiak DeEr. Barangkali pada kunjungan berikutnya, pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak saya akan terjawab. Allahuwalam.

Jangan lupa bahagia hari ini.